Postingan

Cerpen - Terima Kasih Teman

 Terima kasih Teman  Oleh: Mochammad Dzulfikar Ali        Dia adalah teman terbaik yang pernah kumiliki, Ia bernama Rafi, Aku baru bertemu pertama kali dengannya, di hari pertamaku di bangku SMP, dan ternyata ia tinggal tidak jauh dengan rumah ku. Ia adalah satu-satunya tempatku bisa bercerita tentang hidupku dengan tenang, Ia selalu memberiku semangat, dan juga sering menasehatiku yang terkadang hal itu membuatku cukup kesal, Meski begitu aku sama sekali tidak membencinya.       Rafi adalah orang yang sangat baik, dan Ceria. Walaupun ia sering diejek atau di ganggu oleh anak-anak nakal dikelas, ia tetap mampu untuk tetap tersenyum. Berbanding terbalik dengan ku,  jika diperlakukan seperti itu, aku pasti akan kesal. Meski banyak rumor buruk tentangku, ia seolah tidak peduli dan tetap bersikeras untuk menjalin hubungan pertemanan denganku, melihat tekadnya, aku pun memutuskan untuk berteman dengannya, dan tanpa sadar kami sudah menja...

Surat - Untuk Sahabat yang Kini Telah Jauh

 Untuk Sahabat yang Kini Telah Jauh Oleh: Mochammad Dzulfikar Ali Kepada Sahabat ku, Kutulis surat ini dengan penuh beban di dada. Ada hal tak mampu ku sampaikan secara langsung, dan kurasa lebih baik ku tuangkan dalam sebuah tulisan dalam sepucuk surat. Aku merasa ada jurang yang memisahkan kita, Dan hal ini membuat ku sangat kecewa. Aku kecewa bukan karena kebohongan kecil yang kau lakukan, Tetapi karena perlahan kita mulai berubah tanpa ku sadari. Aku merasa hubungan kita yang erat itu, sekarang terasa renggang. Entah itu karena kita semakin sibuk dan dewasa, Atau mungkin karena diri ini terlalu berharap agar semuanya tetap sama seperti dulu. Ada saat-saat dimana kubercerita tidak engkau dengar, seolah ucapan ku terasa tidak penting bagimu. Aku sadar, semakin berjalannya waktu seseorang akan berubah, termasuk engkau dan aku. Namun, perubahan ini seolah semakin menciptakan jarak di antara kita. Aku menulis ini bukan untuk diriku sendiri, ataupun menyalahkanmu, melainkan untuk ber...

Puisi - Langit Kelam

 Langit Kelam Oleh: Mochammad Dzulfikar Ali Kita pernah berbagi tawa bersama. Di bawah langit yang biru,  penuh dengan cerita,  bagaikan sebuah kisah dongeng. Namun kini, seolah semua telah sirna,  tersapu dingin dalam aliran waktu. Kau pergi tanpa alasan,  meninggalkanku dalam kehampaan. Adakah salah yang tak terucap? Atau luka mendalam yang tak kutahu? Sejenak ku tenggelam dalamnya lautan kelam. Terus bertanya pada jiwa ini. Namun aku harus belajar menghadapinya,  walaupun pedih menyayat rasa Meski Kisah ini telah usai, namun hidup harus terus melangkah. Biarlah waktu menyembuhkan luka,  meski kecewa menyelimuti hati,  aku tak akan berhenti mencari arti.

Puisi - Jejak Senyum di Tepian Kota

 Jejak Senyum di Tepian Kota Oleh: Mochammad Dzulfikar Ali Saat itu aku percaya tak ada asa. Semua sirna, bersama dengan senja. Dalam kesunyian itu, aku bertemu denganmu. Berbagi senyum yang penuh luka. Kala itu kita bertemu di tepian kota. Aku sadar, sendu tak selalu berarti luka. Terkadang ia juga melahirkan bahagia. Kita ukir sebuah kenangan bersama. Di bawah langit senja yang begitu Indah. Terkadang waktu memudarkan segalanya. Langkahmu kini telah jauh, tak lagi terdengar. Jarak dan waktu mungkin menjadi penghalang. Namun persahabatan sejati tak akan pernah tergantikan. Terimakasih atas segala rasa. Kehadiranmu di hari itu membuat ku bahagia. Meski kini kau pergi jauh ke berbagai kota. Berkat senyuman itu, Aku akan tetap berjuang.  

Kumpulan Puisi Kemanusiaan

  Puisi 1 – Di Lampu Merah Keringatnya tumpah di aspal yang mendidih. di antara deru mesin dan asap yang menyesakkan, Telapak tangan mungil mengetuk pelan, pada setiap kaca yang tertutup rapat.   Sepasang kaki kecil mengejar bayangan, di balik kaca yang enggan terbuka. Di seberang jalan tawa sebaya terdengar, terbawa angin berlalu begitu saja.   Puisi 2 – Di Kala Senja Duduk diam di tepi senja, menatap halaman luas yang tak berujung. Hanya gesekan daun kering yang terdengar, memecah sunyi di lorong yang panjang.   Ingatan melayang pada suatu masa, di kala setiap sudut penuh dengan tawa. Kini tinggal kenangan, tersimpan rapat dalam hati.   Menanti sesuatu yang tak kunjung tiba, di antara langkah-langkah asing yang berlalu. Hanya ada bayangan di sudut beranda, menunggu pelukan hangat yang pernah ada.   Puisi 3 – Di Tengah Gemerlap Kota Lampu-lampu kota menyala terang, memantul pada dinding kaca gedung ...

Puisi - Wahai Kesunyian

Wahai Kesunyian Oleh: Mochammad Dzulfikar Ali Dalam hening aku mencari arah, di antara siang dan malam aku mencari makna. Langit terbuka luas ketika kubuka firman-Mu, dan aku membaca-Mu dalam cahaya yang jatuh di dada. Tiada jarak antara aku dan Kau, hanya kabut lupa, yang luruh setiap kali kulantunkan nama-Mu. Kini kutahu sunyi bukanlah sepi, melainkan Engkau yang berbisik tanpa suara.

Cerpen - Sayap yang Tak Kasat Mata

Sayap yang Tak Kasat Mata  Oleh: Mochammad Dzulfikar Ali      Telah datang hari ini. Apakah akan seperti kemarin? Apakah akan menjadi lebih baik? Tentu saja tidak. Aku sudah muak dengan kehidupanku yang monoton ini. Selalu berangkat pagi, pulang petang. Udara pagi yang dingin menempel di kulitku seperti beban yang tak mau pergi. Tirai kamar bergetar pelan, seolah ikut menggodaku untuk tetap berbaring di ranjang. Aku memejamkan mata sejenak, berharap dunia di luar sana bisa lenyap meskipun hanya untuk sesaat. Namun kewajiban memaksaku untuk melangkah dan bangkit meninggalkan surga pulau kapuk ini menuju neraka yang disebut gedung kantor korporat itu, lagi, lagi, dan lagi. Setiap hari kerja rodi tanpa penghargaan dan apresiasi. Uang lembur tak dibayar, gaji terus dikorupsi oleh bos keparat itu.      Terkadang aku menyempatkan diri untuk pergi ke warung untuk sekedar membeli kopi demi menghilangkan dahaga di hari yang panas. Namun,segelas kopi pan...

Cerpen - Malam Terakhir

Malam Terakhir  Oleh: Mochammad Dzulfikar Ali        Suara jam dinding terdengar jelas di ruang tamu yang sempit itu. Cahaya lampu bohlam di langit-langit agak redup, dan sesekali berkedip. Suasana di meja makan itu sangat sepi, hanya ada bunyi gesekan sendok di atas piring plastik. Angin malam menyelinap masuk lewat celah-celah dinding rumah, membawa udara dingin yang menusuk kulit.      Anak itu duduk terdiam. Di depannya tersaji sepiring nasi sisa, dan sedikit sayur yang sudah dingin. Ia tidak merasa lapar sama sekali. Tangannya hanya sibuk memainkan sendok, menggesernya ke kiri dan ke kanan tanpa henti. Sesekali, ia melirik ke arah Ayah yang duduk tepat di hadapannya. Ayah hanya terdiam sambil menatap kosong ke arah gelas kopi yang menyisakan ampas. Wajah Ayah terlihat sangat lelah dengan kantung mata yang menebal. Sejak pulang dari ladang sore tadi, Ayah memang belum mengeluarkan suara sedikit pun. Di sudut meja, Ibu sibuk melipat taplak ...

Quotes - Ikatan Bagai Baja

 Ikatan Bagai Baja Oleh: Mochammad Dzulfikar Ali Ini adalah awal, bukan akhir. Rasa sakit ini hanya sementara, Tetapi ikatan persahabatan ini abadi. Jarak mungkin memisahkan kita, namun kau akan selalu ada di hatiku, kawan.

Puisi - Aku, Kenangan, dan Kenyataan

Aku, Kenangan, dan Kenyataan Oleh: Mochammad Dzulfikar Ali   Entah sudah berapa lama waktu berlalu. Pandanganku kabur ketika kisah lama kembali mengetuk. Kaki ini terus melangkah Demi menguak misteri antara engkau dan aku. Ku arungi samudra kenangan. Kubelah angin yang membawa bisik masa lalu. Kuterjang ombak yang berlumur rinduku. Segala rintangan ku hempaskan Hingga akhirnya kutemukan jejakmu Di ujung dunia yang dingin dan sunyi. Suatu ketika, di bawah langit berawan, Aku kembali bertemu denganmu. Dengan hati yang riang aku berlari menyapamu, Siap menumpahkan cerita yang lama tertahan. Namun perlahan kusadari, Kau bukan lagi dirimu yang dahulu. Tatapanmu hampa, suaramu asing, Dan kau bahkan tidak mengenal siapa aku. Hatiku meretas, napasku terengah. Dada bagai diikat tali yang tak terlihat. Air mata jatuh tanpa diminta. Apa salahku hingga kau menghapusku dari ingatanmu. Aku terus bertanya dalam diam. Apakah kenangan yang kugenggam adalah nyata, ...