Cerpen - Terima Kasih Teman

 Terima kasih Teman 

Oleh: Mochammad Dzulfikar Ali

 

    Dia adalah teman terbaik yang pernah kumiliki, Ia bernama Rafi, Aku baru bertemu pertama kali dengannya, di hari pertamaku di bangku SMP, dan ternyata ia tinggal tidak jauh dengan rumah ku. Ia adalah satu-satunya tempatku bisa bercerita tentang hidupku dengan tenang, Ia selalu memberiku semangat, dan juga sering menasehatiku yang terkadang hal itu membuatku cukup kesal, Meski begitu aku sama sekali tidak membencinya. 

    Rafi adalah orang yang sangat baik, dan Ceria. Walaupun ia sering diejek atau di ganggu oleh anak-anak nakal dikelas, ia tetap mampu untuk tetap tersenyum. Berbanding terbalik dengan ku,  jika diperlakukan seperti itu, aku pasti akan kesal. Meski banyak rumor buruk tentangku, ia seolah tidak peduli dan tetap bersikeras untuk menjalin hubungan pertemanan denganku, melihat tekadnya, aku pun memutuskan untuk berteman dengannya, dan tanpa sadar kami sudah menjadi sepasang sahabat. 

    Entah sudah berapa lama waktu berlalu, tetapi, semenjak itu, hari-hariku yang sebelumnya terasa gelap dan dingin, berubah menjadi hari-hari yang begitu cerah dan penuh warna. sungguh hari-hari yang luar biasa, kami sering menghabiskan waktu bersama, pergi ke berbagai tempat, dan tumbuh bersama dibangku belakang sekolah. Suatu hari aku mulai mengambil pena dan kertas isi penuh dengan daftar harapan dan keinginan kami bersama, serta mengabadikan banyak foto yang kami ambil, dan aku masih ingat waktu itu aku juga berkata, 

“wah, begitu banyak hal yang kita tulis dan foto yang kita ambil” ucapku. 

“benar!, ini luar biasa!” jawab Rafi.  

“Tetapi, lihatlah foto-foto ini terlihat buruk” ucapku. 

“Tetapi, Bagaimana itu bisa terlihat buruk dimatamu?” tanya Rafi. 

“Tentu saja!, lihat wajah kita terlihat seperti buronan!” jawabku. 

    Mendengar jawabanku, sahabatku rafi pun mulai tertawa terbahak-bahak, dibarengi dengan diriku yang juga ikut tertawa. Tidak lama setelah itu kami mendengar suara bel sekolah yang berbunyi, tidak terasa waktu sudah berlalu begitu cepat hingga mencapai senja. Besok adalah hari libur, Rafi terlihat sedih, tapi aku meyakinkannya bahwa kita masih bisa bertemu lagi besok dan, lagi pula rumah kita tidak terlalu berjauhan, atau kita masih bisa bertemu lagi besok lusa disekolah. Rafi terlihat mengangguk dan tersenyum kembali dan kami pun melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah masing-masing.   

    Setelah berpisah, dalam perjalanan menuju ke rumah, terbesit sebuah pertanyaan dibenakku, “kenapa harus ada matahari yang tenggelam dihari yang indah?” aku berharap hari-hari itu tidak pernah berakhir.  Hari libur telah berlalu, aku sudah siap untuk kembali bersekolah, namun, pada hari itu rafi tidak masuk sekolah. Sepulang sekolah aku pergi ke rumahnya dan rumahnya terlihat begitu sepi, tidak terlihat ada orang di dalam. Setiap harinya aku terus mengunjungi rumahnya dan masih tidak ada orang, aku pun juga menunggu nya di sekolah tetapi ia tetap tidak kunjung hadir.  

    Akhirnya, hari-hariku ku lewati sendiri, tidak lagi bersamanya. Hari-hari pun mulai terasa begitu suram, seolah dunia sudah tak sama lagi setelah kepergianmu, ketika aku pergi sekolah, Aku tidak bisa berhenti memikirkan tentang mu, dan bagaimana waktu itu kita sering melakukan hal-hal bodoh bersama, waktu itu, aku tidak sadar jika saat itu kita sedang membuat sebuah kenangan, yang kutahu saat itu, kami hanya sedang bersenang-senang. Sambil memandangi sebuah foto terlintas di benakku, 

“Aku tidak tahu waktu bisa berjalan dengan begitu kejam. Tetapi Foto-foto ini ternyata tidak terlihat terlalu buruk. sekarang” Ucapku. 

    Tanpa sadar, air mataku mulai menetes, aku sudah tidak mampu lagi untuk menahan perasaan rindu ini, aku merasa sangat getir. Tapi, meskipun begitu, aku berusaha untuk tetap tegar dan terus tersenyum. Meskipun, aku harus menghadapi kenyataan pahit ini. Bahwasanya engkau tidak akan kembali. Terimakasih Temanku, engkau adalah sahabat sejatiku yang tidak akan pernah tergantikan. Meski begitu, jauh di dalam hati, aku berharap kamu ada di sini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen - Malam Terakhir

Puisi - Aku, Kenangan, dan Kenyataan