Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Cerpen - Terima Kasih Teman

 Terima kasih Teman  Oleh: Mochammad Dzulfikar Ali        Dia adalah teman terbaik yang pernah kumiliki, Ia bernama Rafi, Aku baru bertemu pertama kali dengannya, di hari pertamaku di bangku SMP, dan ternyata ia tinggal tidak jauh dengan rumah ku. Ia adalah satu-satunya tempatku bisa bercerita tentang hidupku dengan tenang, Ia selalu memberiku semangat, dan juga sering menasehatiku yang terkadang hal itu membuatku cukup kesal, Meski begitu aku sama sekali tidak membencinya.       Rafi adalah orang yang sangat baik, dan Ceria. Walaupun ia sering diejek atau di ganggu oleh anak-anak nakal dikelas, ia tetap mampu untuk tetap tersenyum. Berbanding terbalik dengan ku,  jika diperlakukan seperti itu, aku pasti akan kesal. Meski banyak rumor buruk tentangku, ia seolah tidak peduli dan tetap bersikeras untuk menjalin hubungan pertemanan denganku, melihat tekadnya, aku pun memutuskan untuk berteman dengannya, dan tanpa sadar kami sudah menja...

Cerpen - Sayap yang Tak Kasat Mata

Sayap yang Tak Kasat Mata  Oleh: Mochammad Dzulfikar Ali      Telah datang hari ini. Apakah akan seperti kemarin? Apakah akan menjadi lebih baik? Tentu saja tidak. Aku sudah muak dengan kehidupanku yang monoton ini. Selalu berangkat pagi, pulang petang. Udara pagi yang dingin menempel di kulitku seperti beban yang tak mau pergi. Tirai kamar bergetar pelan, seolah ikut menggodaku untuk tetap berbaring di ranjang. Aku memejamkan mata sejenak, berharap dunia di luar sana bisa lenyap meskipun hanya untuk sesaat. Namun kewajiban memaksaku untuk melangkah dan bangkit meninggalkan surga pulau kapuk ini menuju neraka yang disebut gedung kantor korporat itu, lagi, lagi, dan lagi. Setiap hari kerja rodi tanpa penghargaan dan apresiasi. Uang lembur tak dibayar, gaji terus dikorupsi oleh bos keparat itu.      Terkadang aku menyempatkan diri untuk pergi ke warung untuk sekedar membeli kopi demi menghilangkan dahaga di hari yang panas. Namun,segelas kopi pan...

Cerpen - Malam Terakhir

Malam Terakhir  Oleh: Mochammad Dzulfikar Ali        Suara jam dinding terdengar jelas di ruang tamu yang sempit itu. Cahaya lampu bohlam di langit-langit agak redup, dan sesekali berkedip. Suasana di meja makan itu sangat sepi, hanya ada bunyi gesekan sendok di atas piring plastik. Angin malam menyelinap masuk lewat celah-celah dinding rumah, membawa udara dingin yang menusuk kulit.      Anak itu duduk terdiam. Di depannya tersaji sepiring nasi sisa, dan sedikit sayur yang sudah dingin. Ia tidak merasa lapar sama sekali. Tangannya hanya sibuk memainkan sendok, menggesernya ke kiri dan ke kanan tanpa henti. Sesekali, ia melirik ke arah Ayah yang duduk tepat di hadapannya. Ayah hanya terdiam sambil menatap kosong ke arah gelas kopi yang menyisakan ampas. Wajah Ayah terlihat sangat lelah dengan kantung mata yang menebal. Sejak pulang dari ladang sore tadi, Ayah memang belum mengeluarkan suara sedikit pun. Di sudut meja, Ibu sibuk melipat taplak ...