Cerpen - Malam Terakhir
Malam Terakhir
Suara jam
dinding terdengar jelas di ruang tamu yang sempit itu. Cahaya lampu bohlam di
langit-langit agak redup, dan sesekali berkedip. Suasana di meja makan itu
sangat sepi, hanya ada bunyi gesekan sendok di atas piring plastik. Angin malam
menyelinap masuk lewat celah-celah dinding rumah, membawa udara dingin yang menusuk
kulit.
Anak itu duduk terdiam. Di depannya tersaji sepiring nasi sisa, dan sedikit sayur yang sudah dingin. Ia tidak merasa lapar sama sekali. Tangannya hanya sibuk memainkan sendok, menggesernya ke kiri dan ke kanan tanpa henti. Sesekali, ia melirik ke arah Ayah yang duduk tepat di hadapannya. Ayah hanya terdiam sambil menatap kosong ke arah gelas kopi yang menyisakan ampas. Wajah Ayah terlihat sangat lelah dengan kantung mata yang menebal. Sejak pulang dari ladang sore tadi, Ayah memang belum mengeluarkan suara sedikit pun. Di sudut meja, Ibu sibuk melipat taplak meja dengan gerakan yang sangat pelan. Ibu seolah sengaja menjaga kesunyian di ruangan itu agar tidak terganggu. Anak itu menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak karena ada hal penting yang ingin ia sampaikan. Ia tahu betul kondisi keuangan keluarga mereka sedang sulit saat ini. Siang tadi, ia melihat Ibu menghitung uang receh di dalam kaleng biskuit dengan raut wajah yang penuh beban.
Ia mencoba
memajukan posisi duduknya. Kursi kayu yang ia duduki berderit keras, memecah
keheningan malam. Suara itu membuat Ayah menoleh, dan menatapnya tajam. Mereka
saling bertatapan sejenak, namun anak itu segera menunduk kembali. Ia memilih
memperhatikan jempol kakinya yang saling beradu di bawah meja.
Malam sudah semakin larut dan tidak akan ada lagi orang yang bertamu. Ini adalah waktu yang paling tepat untuk bicara, namun lidahnya terasa kaku. Ia sangat ingin pergi ke kota untuk mencari pekerjaan demi membantu orang tuanya. Namun, ia sadar bahwa orang tuanya menyimpan ketakutan yang besar jika ia harus pergi jauh dari rumah. Ia memegang pinggiran meja kayu yang kasar itu dengan erat seolah mencoba menguatkan hatinya. Anak itu berulang kali menelan ludah. Ibu meletakkan taplak meja yang sedang dilipatnya, lalu membiarkan tangannya diam begitu saja di atas meja. Ayah masih duduk diam, tetapi jemarinya mulai mengetuk-ngetuk pinggiran gelas kopi yang sudah kosong.
"Yah,
Bu," panggilnya pelan.
Ayah perlahan
mengalihkan pandangan dari gelas kopi. Ayah tidak langsung bicara, hanya
menatapnya diam. Tatapan itu membuat si anak sedikit gugup.
"Aku sudah
berpikir sejak beberapa waktu lalu," ia menjeda kalimatnya sejenak.
"Aku ingin
mencoba mencari kerja di kota. Temanku bilang ada lowongan di pabrik yang
gajinya cukup untuk memenuhi kebutuhan."
Ia langsung menunduk setelah mengucapkan kalimat itu, tidak berani melihat bagaimana reaksi kedua orang tuanya. Keheningan kembali memenuhi ruangan. Kali ini suasananya terasa lebih menekan. Ibu menarik napas pendek, lalu jemarinya mulai meremas kain taplak meja hingga sangat kusut. Ayah tetap diam. Tangannya bergerak mengambil bungkus rokok di saku kemeja. Ia mengeluarkan satu batang rokok, lalu menyalakannya. Asap mulai mengepul, menari-nari di bawah lampu bohlam yang redup.
"Kota itu
jauh," kata Ayah.
"Aku tahu,
Yah. Tapi di sini kita susah terus. Aku ingin bantu Ibu juga." Ia
memberanikan diri sedikit melihat ke depan, meski hanya sampai batas dagu
Ayahnya.
Ibu
menggelengkan kepalanya pelan berkali-kali.
"Kita masih
bisa makan meskipun sedikit, Nak. Tidak perlu pergi ke sana," ucap Ibu,
suaranya hampir tidak terdengar di antara detak jam dinding.
Ibu bergeser
dari kursinya, mendekat, lalu menggenggam bahu anaknya dengan erat. Anak itu
hanya terdiam, menatap punggung tangan Ibunya yang kasar dan kulitnya yang
pecah-pecah di bawah cahaya lampu yang redup. Genggaman itu terasa sangat
kencang dan sedikit gemetar, seolah-olah sang Ibu sedang menahan sesuatu agar
tidak terseret pergi oleh kegelapan malam di luar rumah.
Anak itu ingin
membalas pegangan tangan Ibunya, tetapi ia hanya terpaku melihat bagaimana
jemari Ibu yang renta itu terus meremas kain bajunya hingga kusut. Keheningan
kembali menyelimuti ruangan, hanya menyisakan bau asap rokok Ayah yang semakin
pekat dan sesak. Ia tahu, di balik genggaman itu, ada ketakutan besar yang
belum sempat terucap.
Ayah menekan
puntung rokoknya ke asbak hingga benar-benar padam. Asapnya masih mengepul
tipis di antara mereka. Ayah kemudian mengangkat wajah dan menatap tajam ke
arah anaknya.
"Kamu pikir
hidup di kota itu segampang omongan temanmu?" tanya Ayah. Suaranya rendah
tapi terdengar sangat mengancam.
Anak itu tetap
menunduk, tidak berani membalas tatapan itu. Ia bisa merasakan tangan Ibu yang
masih memegang bahunya mulai gemetar. Ibu tidak bicara, hanya meremas pelan
kain bajunya di bagian bahu. Anak itu mencoba menarik napas dalam-dalam,
mencari sedikit keberanian di tengah bau tembakau yang menyesakkan ruangan
sempit itu.
"Aku hanya
mau membantu, Yah. Aku lihat sendiri setiap sore Ibu kebingungan di dapur
karena beras sudah menipis," jawabnya. Suaranya pelan namun terdengar
sangat tegas.
Mendengar
kalimat itu, Ayah tiba-tiba memukul meja kayu dengan telapak tangan yang
terbuka. Bunyinya sangat keras, berdentum di dalam ruangan yang sunyi itu.
Gelas kopi yang sudah kosong di atas meja sampai terguling dan berputar di atas
permukaan kayu yang kasar. Ibu tersentak kaget, bahunya terangkat, dan ia
langsung menarik tangannya dari bahu sang anak. Ibu hanya bisa terdiam melihat
gelas yang terguling itu.
"Jangan sok
tahu urusan dapur!" bentak Ayah. Wajah Ayah yang tadinya pucat kini
berubah memerah karena emosi yang meluap.
"Urusan
makan itu tanggung jawab Ayah. Kamu tidak perlu bertingkah seolah-olah sudah
paling tahu cara mencari uang di dunia ini," lanjut Ayah dengan nada yang
semakin meninggi.
"Tapi
kenyataannya kita memang sedang kesulitan, kan?" Anak itu akhirnya berani
menjawab. Ia mengangkat wajahnya dan menatap langsung ke mata Ayah yang penuh
kemarahan.
"Cangkul
Ayah sudah rapuh dan berkarat. Ladang kita juga sekarang lebih banyak rumputnya
daripada hasil yang bisa dipanen. Sampai kapan kita mau bertahan dengan cara
begini terus?"
Ayah terdiam
mendengar balasan itu. Rahangnya mengeras sampai otot di pipinya terlihat
menonjol. Ayah mendorong kursi kayunya ke belakang dengan kasar hingga
menimbulkan suara derit yang memekakkan telinga. Ayah berdiri, lalu berjalan
dua langkah menuju jendela kayu yang tidak tertutup rapat. Ayah berdiri
membelakangi meja, menatap lurus ke arah kegelapan di luar rumah.
"Kota itu
bukan tempat untuk orang seperti kita," ucap Ayah tanpa menoleh sedikit
pun.
"Ayah sudah
lihat banyak tetangga kita berangkat ke sana dengan tekad yang luar biasa.
Mereka pamit dengan gaya yang hebat, tapi pulangnya tidak membawa apa-apa. Ada
juga yang malah tidak pernah pulang sama sekali, hilang tanpa kabar."
Anak itu ikut
berdiri dari kursinya. Ia merasa dadanya sesak, bukan karena asap rokok yang
masih tersisa di udara, melainkan karena ia merasa suaranya sama sekali tidak
didengar oleh Ayahnya sendiri.
"Itu
mereka, Yah. Aku beda. Aku sudah janji pada temanku untuk bertemu di terminal
besok pagi pukul enam," tegasnya.
Ibu yang sejak
tadi diam kini mengambil kain lap kusam di pinggir meja. Ibu menekannya ke
mulut untuk meredam suara tangis yang mulai pecah. Melihat Ibu menangis seperti
itu, amarah di hati anak itu sedikit surut, tetapi tekadnya justru terasa
semakin kuat. Ia mengalihkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu. Dinding
kayu yang lapuk, atap yang pasti akan bocor jika hujan turun nanti malam, dan
lantai semen yang sudah retak-retak di mana-mana. Ia tidak ingin menghabiskan
sisa hidupnya hanya untuk menunggu keajaiban jatuh dari langit sementara rumah
ini perlahan hancur.
Ayah berbalik
perlahan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Matanya tidak lagi terlihat marah
seperti tadi, melainkan terlihat sangat lelah. Ayah berjalan kembali ke meja,
lalu duduk di kursinya dengan gerakan yang sangat lambat.
"Besok pagi
batalkan janjimu itu," kata Ayah dingin.
"Masuk ke
kamar sekarang dan lupakan soal bekerja di kota."
Anak itu
mengepalkan kedua tangannya di samping badan. Ia ingin sekali berteriak dan
membela diri, tapi suaranya terasa tertahan di kerongkongan. Ia melihat Ayahnya
kembali meraih bungkusan rokok, meraba-raba isinya untuk mencari batang lain,
padahal ia tahu rokok itu sudah habis. Di bawah cahaya lampu yang redup dan
sedikit kuning itu, mereka bertiga kembali terjebak dalam keheningan yang
terasa semakin dalam dan menyakitkan.
Anak itu tidak
beranjak dari kursinya. Ia tetap duduk tegak, meskipun kedua tangannya masih
mengepal kuat di atas paha. Ia tidak berniat masuk ke kamar seperti yang
diperintahkan Ayah. Dadanya terasa panas, bukan karena marah, tetapi karena
merasa dianggap tidak tahu apa-apa. Ia menatap Ayahnya yang masih duduk dengan
lemas, seolah seluruh tenaga pria itu sudah habis setelah membentaknya tadi.
"Aku tidak
akan masuk ke kamar sebelum Ayah jelaskan kenapa Ayah sangat melarangku
pergi," ucap anak itu dengan suara yang berusaha ia buat setenang mungkin.
"Ayah bilang kota itu berbahaya, Ayah bilang banyak orang gagal, tapi Ayah
tidak pernah cerita apa yang sebenarnya membuat Ayah takut."
Ibu yang tadi
sedang menekan kain lap ke mulutnya, kini menurunkan tangannya. Wajah Ibu
terlihat pucat di bawah sinar lampu yang redup. Ibu menatap Ayah dengan
pandangan yang penuh permohonan, seolah-olah meminta Ayah untuk berhenti atau
justru meminta Ayah untuk jujur saja. Namun, Ayah hanya terdiam. Ayah merogoh
kembali saku kemejanya, menyadari bungkusan rokok itu benar-benar sudah kosong,
lalu melemparkannya ke atas meja dengan kasar.
"Sudah,
masuk saja ke kamar, Nak," bisik Ibu pelan. Ibu berdiri dan mencoba
mendekati anaknya, hendak menuntunnya pergi dari meja makan itu.
Namun, anak itu
menepis tangan Ibunya dengan halus.
"Tidak, Bu.
Aku sudah dewasa. Aku berhak tahu kenapa kita harus terus hidup seperti ini
sementara ada kesempatan di depan mata. Kenapa Ayah lebih memilih kita
kelaparan di sini daripada membiarkan aku mencoba mencari nasib di luar
sana?"
Mendengar kata
kelaparan, bahu Ayah tampak tersentak. Ayah mengangkat kepalanya perlahan.
Matanya yang merah kini menatap tajam ke arah anaknya. Napas Ayah terdengar
berat dan tidak beraturan. Ayah kemudian memajukan posisi duduknya, menumpukan
kedua lengannya di atas meja.
"Kamu mau
tahu kenapa?" tanya Ayah dengan nada yang lembut.
Anak itu
mengangguk pelan.
Ayah menarik
napas panjang, lalu mengembuskannya. Ayah melihat ke arah dinding kayu yang
sudah lapuk di belakang anaknya, seolah-olah sedang melihat kejadian masa lalu
yang tertulis di sana.
"Dulu, Ayah
punya seorang kakak. Pamanmu, Yusuf," kata Ayah. Suaranya kini terdengar
sangat rendah.
Anak itu
terdiam. Ia pernah mendengar nama itu sesekali, tapi tidak pernah ada yang
menceritakan secara lengkap siapa sebenarnya Yusuf itu. Yang ia tahu hanyalah
pamannya itu sudah lama meninggal dunia saat ia masih bayi.
"Yusuf itu
persis sepertimu," lanjut Ayah.
"Dia
cerdas, dia kuat, dan dia punya tekad yang luar biasa untuk mengubah hidup
keluarga kita. Waktu itu, rumah ini bahkan lebih buruk dari sekarang. Kami
sering tidak makan seharian."
"Dia pergi
ke kota dengan janji yang sama seperti yang kamu ucapkan tadi. Dia bilang akan
bekerja di pabrik besar, akan mengirim uang setiap bulan, dan akan membangunkan
rumah yang layak untuk kami semua. Ayah mengantarnya ke terminal, sama seperti rencana
kamu besok pagi."
Ibu mulai
menangis lagi, kali ini tanpa mencoba meredam suaranya. Suara isak tangis Ibu
memenuhi ruangan yang sempit itu, berbaur dengan suara detak jam dinding yang
masih terus berbunyi.
"Dua bulan
pertama, kiriman uang itu memang datang."
"Kami
sangat senang. Kami bisa beli beras, bisa beli alat tani baru. Tapi setelah
itu, suratnya berhenti datang. Tidak ada kabar, tidak ada uang, tidak ada
apa-apa selama berbulan-bulan."
Anak itu hanya
mendengarkan, ia tidak berani memotong cerita Ayahnya. Ia melihat bagaimana
tangan Ayah yang kasar kini mulai gemetar dengan sangat jelas di atas meja.
"Ayah
menyusul ke kota dengan sisa uang yang ada. Ayah cari pabriknya, Ayah tanya ke
teman-temannya. Dan kamu tahu apa yang Ayah temukan?" Ayah menatap anaknya
dengan tatapan yang sangat kosong. "Ayah menemukan kakak Ayah di sebuah
kontrakan sempit yang bahkan lebih kecil dari dapur kita. Dia sakit parah
karena bekerja terlalu keras di pabrik kimia tanpa perlindungan apa-apa. Mereka
membuangnya begitu saja karena dia sudah tidak bisa bekerja lagi."
Ayah memejamkan
matanya rapat-rapat, seolah ingin menghapus bayangan itu dari pikirannya.
"Ayah membawanya pulang dengan mobil bak terbuka karena tidak punya uang
untuk sewa ambulans. Dia meninggal di perjalanan, tepat di pangkuan Ayah
sebelum kami sampai di desa ini. Dia pulang tanpa membawa apa-apa, hanya
membawa badan yang tinggal tulang, dan kulit."
Ruangan itu
menjadi sangat hening setelah cerita. Anak itu merasa jantungnya berdetak
sangat cepat. Ia tidak pernah menyangka ceritanya akan seperti itu di balik
sikap keras Ayahnya selama ini. Ia melihat ke arah tangannya sendiri, lalu
beralih menatap kaki Ibunya yang tidak memakai alas kaki di atas lantai semen
yang dingin.
"Ayah tidak
melarangmu karena Ayah ingin kita susah terus," ucap Ayah, suaranya kini
terdengar sangat lembut. "Ayah hanya tidak sanggup kalau harus menjemputmu
di terminal dalam keadaan yang sama seperti Pamanmu dulu. Ayah lebih baik
melihatmu makan nasi garam di sini daripada melihatmu hancur di tangan
orang-orang kota yang tidak punya hati."
Anak itu menelan
ludah. Rasa sesak di dadanya kini berganti menjadi rasa haru. Ia melihat
Ayahnya yang perkasa kini terlihat sangat rapuh di depannya. Ayah tidak lagi
terlihat seperti pria pemarah yang egois, melainkan seperti seorang pria yang
sedang berusaha mati-matian melindungi sesuatu yang berharga.
"Tapi,
Yah," anak itu akhirnya bersuara setelah lama terdiam.
"Keadaan
sekarang sudah beda. Aku sudah janji pada temanku, dan pabrik yang aku tuju
punya aturan yang jelas. Aku tidak akan seperti Paman Yusuf. Aku akan menjaga
diriku baik-baik."
"Semua
orang yang pergi ke kota selalu bilang begitu," potong Ayah dengan cepat.
"Yusuf juga bilang begitu waktu itu. Dia bilang dia kuat, dia bilang dia
bisa jaga diri. Tapi kota itu bisa mengubah siapa saja menjadi orang yang
berbeda."
Ibu mendekati
anaknya, lalu memegang kedua tangan anaknya dengan sangat lembut. Tangan Ibu
yang kasar itu terasa hangat.
"Nak,
dengarkan Ayahmu. Kami hanya punya kamu. Harta kami hanya kamu.”
Anak itu menatap
Ibu, lalu beralih menatap Ayah. Ia merasa terjepit di antara keinginannya untuk
membantu keluarga dan ketakutan orang tuanya yang sangat beralasan. Ia melihat
ke sekeliling rumah itu sekali lagi. Lampu bohlam yang berkedip hampir putus,
dinding kayu yang lapuk, dan piring yang kosong. Semuanya seolah menuntutnya
untuk membuat keputusan yang sangat sulit malam itu juga.
Ia menarik napas
panjang, mencoba menjernihkan pikirannya yang kacau. Di luar rumah, angin malam
berhembus pelan, menggoyangkan dahan pohon di samping rumah yang bergesekan
dengan atap seng, menimbulkan suara berisik yang mengganggu kesunyian. Mereka
bertiga masih duduk di meja makan, terjebak dalam kebenaran yang baru saja
terungkap. Tidak ada lagi teriakan, hanya ada sisa-sisa air mata dan beban masa
lalu yang terasa sangat berat di tengah ruangan itu.
Ibu meletakkan
kain lap yang ia bawa di atas meja. Matanya sembap dan merah. Keheningan kali
ini terasa berbeda dari sebelumnya. Tidak ada lagi ketegangan yang
meledak-ledak, hanya ada sisa sesak yang tertinggal di udara. Ayah masih
menatap asbak yang penuh abu rokok, tangannya diam di atas meja.
Anak itu
memperhatikan tangan Ayahnya. Ia membayangkan tangan yang sama puluhan tahun
lalu harus memeluk tubuh kaku saudaranya di atas mobil bak terbuka. Bayangan
itu membuat rasa bersalah mulai merayap di dadanya, menggantikan amarah yang
tadi sempat meluap. Namun, saat ia melirik ke arah tas kain usangnya di sudut
ruangan, tekadnya kembali mengeras. Ia menyadari bahwa mencintai orang tua
bukan berarti harus ikut terkubur dalam ketakutan mereka, melainkan berani
membawa perubahan demi mereka.
"Ayah tidak
pernah bermaksud membuatmu merasa terkurung di sini," ucap Ayah pelan.
"Ayah hanya tidak ingin pintu rumah ini diketuk oleh orang asing yang
membawa kabar buruk tentangmu. Ayah tidak sanggup jika hal itu terulang
lagi."
Anak itu menelan
ludah. Ia tahu cerita tentang Paman Yusuf sangat mengerikan, tapi melihat
piring kosong di depannya terasa jauh lebih nyata. Ia menatap Ayah yang masih
duduk dengan bahu merosot.
"Aku tetap
akan pergi besok pagi, Yah," ucapnya dengan penuh keyakinan. "Aku
tidak bisa hanya diam menunggu rumah ini hancur perlahan."
Ayah terdiam
cukup lama. Matanya yang merah menatap asbak, lalu beralih menatap anaknya
sebentar. Tidak ada lagi amarah atau bentakan, yang tersisa hanyalah kepasrahan
yang sangat dalam di wajah yang lelah itu.
"Terserah
kamu," ucap Ayah.
Ayah bangkit
dari kursi. Ayah berbalik dan berjalan perlahan menuju kamar tanpa menoleh
lagi, meninggalkan aroma tembakau yang masih menggantung tipis. Punggung Ayah
terlihat sangat bungkuk malam ini, seolah beban masa lalu kembali menindih
pundaknya dengan berat.
Ibu mengusap
punggung tangan anaknya sekali lagi, memberikan kehangatan yang singkat sebelum
akhirnya ikut berdiri dan menyusul Ayah ke kamar. Keheningan kembali menyergap,
menyisakan suara langkah kaki Ibu yang menjauh.
Kini, tinggal
anak itu sendirian di meja makan dalam kegelapan malam. Piring plastik kosong
dan gelas kopi yang tinggal ampas menjadi saksi bisu perdebatan panjang mereka.
Di luar, suara jangkrik masih mengerik, beradu dengan angin malam yang masuk
melalui celah dinding kayu. Ia melihat tas kainnya di sudut ruangan, siap untuk
dibawa pergi saat fajar tiba. Keputusannya sudah tidak bisa diubah lagi. Ia
tahu perjalanannya akan berat, tapi ia lebih memilih mencoba daripada menyerah
pada takdir di rumah ini.
Komentar
Posting Komentar