Cerpen - Malam Terakhir

Malam Terakhir

 Oleh: Mochammad Dzulfikar Ali

 

    Suara jam dinding terdengar jelas di ruang tamu yang sempit itu. Cahaya lampu bohlam di langit-langit agak redup, dan sesekali berkedip. Suasana di meja makan itu sangat sepi, hanya ada bunyi gesekan sendok di atas piring plastik. Angin malam menyelinap masuk lewat celah-celah dinding rumah, membawa udara dingin yang menusuk kulit.

    Anak itu duduk terdiam. Di depannya tersaji sepiring nasi sisa, dan sedikit sayur yang sudah dingin. Ia tidak merasa lapar sama sekali. Tangannya hanya sibuk memainkan sendok, menggesernya ke kiri dan ke kanan tanpa henti. Sesekali, ia melirik ke arah Ayah yang duduk tepat di hadapannya. Ayah hanya terdiam sambil menatap kosong ke arah gelas kopi yang menyisakan ampas. Wajah Ayah terlihat sangat lelah dengan kantung mata yang menebal. Sejak pulang dari ladang sore tadi, Ayah memang belum mengeluarkan suara sedikit pun. Di sudut meja, Ibu sibuk melipat taplak meja dengan gerakan yang sangat pelan. Ibu seolah sengaja menjaga kesunyian di ruangan itu agar tidak terganggu. Anak itu menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak karena ada hal penting yang ingin ia sampaikan. Ia tahu betul kondisi keuangan keluarga mereka sedang sulit saat ini. Siang tadi, ia melihat Ibu menghitung uang receh di dalam kaleng biskuit dengan raut wajah yang penuh beban.

    Ia mencoba memajukan posisi duduknya. Kursi kayu yang ia duduki berderit keras, memecah keheningan malam. Suara itu membuat Ayah menoleh, dan menatapnya tajam. Mereka saling bertatapan sejenak, namun anak itu segera menunduk kembali. Ia memilih memperhatikan jempol kakinya yang saling beradu di bawah meja.

    Malam sudah semakin larut dan tidak akan ada lagi orang yang bertamu. Ini adalah waktu yang paling tepat untuk bicara, namun lidahnya terasa kaku. Ia sangat ingin pergi ke kota untuk mencari pekerjaan demi membantu orang tuanya. Namun, ia sadar bahwa orang tuanya menyimpan ketakutan yang besar jika ia harus pergi jauh dari rumah. Ia memegang pinggiran meja kayu yang kasar itu dengan erat seolah mencoba menguatkan hatinya. Anak itu berulang kali menelan ludah. Ibu meletakkan taplak meja yang sedang dilipatnya, lalu membiarkan tangannya diam begitu saja di atas meja. Ayah masih duduk diam, tetapi jemarinya mulai mengetuk-ngetuk pinggiran gelas kopi yang sudah kosong.

"Yah, Bu," panggilnya pelan.

Ayah perlahan mengalihkan pandangan dari gelas kopi. Ayah tidak langsung bicara, hanya menatapnya diam. Tatapan itu membuat si anak sedikit gugup.

"Aku sudah berpikir sejak beberapa waktu lalu," ia menjeda kalimatnya sejenak.

"Aku ingin mencoba mencari kerja di kota. Temanku bilang ada lowongan di pabrik yang gajinya cukup untuk memenuhi kebutuhan."

    Ia langsung menunduk setelah mengucapkan kalimat itu, tidak berani melihat bagaimana reaksi kedua orang tuanya. Keheningan kembali memenuhi ruangan. Kali ini suasananya terasa lebih menekan. Ibu menarik napas pendek, lalu jemarinya mulai meremas kain taplak meja hingga sangat kusut. Ayah tetap diam. Tangannya bergerak mengambil bungkus rokok di saku kemeja. Ia mengeluarkan satu batang rokok, lalu menyalakannya. Asap mulai mengepul, menari-nari di bawah lampu bohlam yang redup.

"Kota itu jauh," kata Ayah.

"Aku tahu, Yah. Tapi di sini kita susah terus. Aku ingin bantu Ibu juga." Ia memberanikan diri sedikit melihat ke depan, meski hanya sampai batas dagu Ayahnya.

Ibu menggelengkan kepalanya pelan berkali-kali.

"Kita masih bisa makan meskipun sedikit, Nak. Tidak perlu pergi ke sana," ucap Ibu, suaranya hampir tidak terdengar di antara detak jam dinding.

    Ibu bergeser dari kursinya, mendekat, lalu menggenggam bahu anaknya dengan erat. Anak itu hanya terdiam, menatap punggung tangan Ibunya yang kasar dan kulitnya yang pecah-pecah di bawah cahaya lampu yang redup. Genggaman itu terasa sangat kencang dan sedikit gemetar, seolah-olah sang Ibu sedang menahan sesuatu agar tidak terseret pergi oleh kegelapan malam di luar rumah.

    Anak itu ingin membalas pegangan tangan Ibunya, tetapi ia hanya terpaku melihat bagaimana jemari Ibu yang renta itu terus meremas kain bajunya hingga kusut. Keheningan kembali menyelimuti ruangan, hanya menyisakan bau asap rokok Ayah yang semakin pekat dan sesak. Ia tahu, di balik genggaman itu, ada ketakutan besar yang belum sempat terucap.

Ayah menekan puntung rokoknya ke asbak hingga benar-benar padam. Asapnya masih mengepul tipis di antara mereka. Ayah kemudian mengangkat wajah dan menatap tajam ke arah anaknya.

"Kamu pikir hidup di kota itu segampang omongan temanmu?" tanya Ayah. Suaranya rendah tapi terdengar sangat mengancam.

    Anak itu tetap menunduk, tidak berani membalas tatapan itu. Ia bisa merasakan tangan Ibu yang masih memegang bahunya mulai gemetar. Ibu tidak bicara, hanya meremas pelan kain bajunya di bagian bahu. Anak itu mencoba menarik napas dalam-dalam, mencari sedikit keberanian di tengah bau tembakau yang menyesakkan ruangan sempit itu.

"Aku hanya mau membantu, Yah. Aku lihat sendiri setiap sore Ibu kebingungan di dapur karena beras sudah menipis," jawabnya. Suaranya pelan namun terdengar sangat tegas.

    Mendengar kalimat itu, Ayah tiba-tiba memukul meja kayu dengan telapak tangan yang terbuka. Bunyinya sangat keras, berdentum di dalam ruangan yang sunyi itu. Gelas kopi yang sudah kosong di atas meja sampai terguling dan berputar di atas permukaan kayu yang kasar. Ibu tersentak kaget, bahunya terangkat, dan ia langsung menarik tangannya dari bahu sang anak. Ibu hanya bisa terdiam melihat gelas yang terguling itu.

"Jangan sok tahu urusan dapur!" bentak Ayah. Wajah Ayah yang tadinya pucat kini berubah memerah karena emosi yang meluap.

"Urusan makan itu tanggung jawab Ayah. Kamu tidak perlu bertingkah seolah-olah sudah paling tahu cara mencari uang di dunia ini," lanjut Ayah dengan nada yang semakin meninggi.

"Tapi kenyataannya kita memang sedang kesulitan, kan?" Anak itu akhirnya berani menjawab. Ia mengangkat wajahnya dan menatap langsung ke mata Ayah yang penuh kemarahan.

"Cangkul Ayah sudah rapuh dan berkarat. Ladang kita juga sekarang lebih banyak rumputnya daripada hasil yang bisa dipanen. Sampai kapan kita mau bertahan dengan cara begini terus?"

    Ayah terdiam mendengar balasan itu. Rahangnya mengeras sampai otot di pipinya terlihat menonjol. Ayah mendorong kursi kayunya ke belakang dengan kasar hingga menimbulkan suara derit yang memekakkan telinga. Ayah berdiri, lalu berjalan dua langkah menuju jendela kayu yang tidak tertutup rapat. Ayah berdiri membelakangi meja, menatap lurus ke arah kegelapan di luar rumah.

"Kota itu bukan tempat untuk orang seperti kita," ucap Ayah tanpa menoleh sedikit pun.

"Ayah sudah lihat banyak tetangga kita berangkat ke sana dengan tekad yang luar biasa. Mereka pamit dengan gaya yang hebat, tapi pulangnya tidak membawa apa-apa. Ada juga yang malah tidak pernah pulang sama sekali, hilang tanpa kabar."

Anak itu ikut berdiri dari kursinya. Ia merasa dadanya sesak, bukan karena asap rokok yang masih tersisa di udara, melainkan karena ia merasa suaranya sama sekali tidak didengar oleh Ayahnya sendiri.

"Itu mereka, Yah. Aku beda. Aku sudah janji pada temanku untuk bertemu di terminal besok pagi pukul enam," tegasnya.

    Ibu yang sejak tadi diam kini mengambil kain lap kusam di pinggir meja. Ibu menekannya ke mulut untuk meredam suara tangis yang mulai pecah. Melihat Ibu menangis seperti itu, amarah di hati anak itu sedikit surut, tetapi tekadnya justru terasa semakin kuat. Ia mengalihkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu. Dinding kayu yang lapuk, atap yang pasti akan bocor jika hujan turun nanti malam, dan lantai semen yang sudah retak-retak di mana-mana. Ia tidak ingin menghabiskan sisa hidupnya hanya untuk menunggu keajaiban jatuh dari langit sementara rumah ini perlahan hancur.

Ayah berbalik perlahan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Matanya tidak lagi terlihat marah seperti tadi, melainkan terlihat sangat lelah. Ayah berjalan kembali ke meja, lalu duduk di kursinya dengan gerakan yang sangat lambat.

"Besok pagi batalkan janjimu itu," kata Ayah dingin.

"Masuk ke kamar sekarang dan lupakan soal bekerja di kota."

    Anak itu mengepalkan kedua tangannya di samping badan. Ia ingin sekali berteriak dan membela diri, tapi suaranya terasa tertahan di kerongkongan. Ia melihat Ayahnya kembali meraih bungkusan rokok, meraba-raba isinya untuk mencari batang lain, padahal ia tahu rokok itu sudah habis. Di bawah cahaya lampu yang redup dan sedikit kuning itu, mereka bertiga kembali terjebak dalam keheningan yang terasa semakin dalam dan menyakitkan.

    Anak itu tidak beranjak dari kursinya. Ia tetap duduk tegak, meskipun kedua tangannya masih mengepal kuat di atas paha. Ia tidak berniat masuk ke kamar seperti yang diperintahkan Ayah. Dadanya terasa panas, bukan karena marah, tetapi karena merasa dianggap tidak tahu apa-apa. Ia menatap Ayahnya yang masih duduk dengan lemas, seolah seluruh tenaga pria itu sudah habis setelah membentaknya tadi.

"Aku tidak akan masuk ke kamar sebelum Ayah jelaskan kenapa Ayah sangat melarangku pergi," ucap anak itu dengan suara yang berusaha ia buat setenang mungkin. "Ayah bilang kota itu berbahaya, Ayah bilang banyak orang gagal, tapi Ayah tidak pernah cerita apa yang sebenarnya membuat Ayah takut."

    Ibu yang tadi sedang menekan kain lap ke mulutnya, kini menurunkan tangannya. Wajah Ibu terlihat pucat di bawah sinar lampu yang redup. Ibu menatap Ayah dengan pandangan yang penuh permohonan, seolah-olah meminta Ayah untuk berhenti atau justru meminta Ayah untuk jujur saja. Namun, Ayah hanya terdiam. Ayah merogoh kembali saku kemejanya, menyadari bungkusan rokok itu benar-benar sudah kosong, lalu melemparkannya ke atas meja dengan kasar.

"Sudah, masuk saja ke kamar, Nak," bisik Ibu pelan. Ibu berdiri dan mencoba mendekati anaknya, hendak menuntunnya pergi dari meja makan itu.

Namun, anak itu menepis tangan Ibunya dengan halus.

"Tidak, Bu. Aku sudah dewasa. Aku berhak tahu kenapa kita harus terus hidup seperti ini sementara ada kesempatan di depan mata. Kenapa Ayah lebih memilih kita kelaparan di sini daripada membiarkan aku mencoba mencari nasib di luar sana?"

Mendengar kata kelaparan, bahu Ayah tampak tersentak. Ayah mengangkat kepalanya perlahan. Matanya yang merah kini menatap tajam ke arah anaknya. Napas Ayah terdengar berat dan tidak beraturan. Ayah kemudian memajukan posisi duduknya, menumpukan kedua lengannya di atas meja.

"Kamu mau tahu kenapa?" tanya Ayah dengan nada yang lembut.

Anak itu mengangguk pelan.

Ayah menarik napas panjang, lalu mengembuskannya. Ayah melihat ke arah dinding kayu yang sudah lapuk di belakang anaknya, seolah-olah sedang melihat kejadian masa lalu yang tertulis di sana.

"Dulu, Ayah punya seorang kakak. Pamanmu, Yusuf," kata Ayah. Suaranya kini terdengar sangat rendah.

Anak itu terdiam. Ia pernah mendengar nama itu sesekali, tapi tidak pernah ada yang menceritakan secara lengkap siapa sebenarnya Yusuf itu. Yang ia tahu hanyalah pamannya itu sudah lama meninggal dunia saat ia masih bayi.

"Yusuf itu persis sepertimu," lanjut Ayah.

"Dia cerdas, dia kuat, dan dia punya tekad yang luar biasa untuk mengubah hidup keluarga kita. Waktu itu, rumah ini bahkan lebih buruk dari sekarang. Kami sering tidak makan seharian."

"Dia pergi ke kota dengan janji yang sama seperti yang kamu ucapkan tadi. Dia bilang akan bekerja di pabrik besar, akan mengirim uang setiap bulan, dan akan membangunkan rumah yang layak untuk kami semua. Ayah mengantarnya ke terminal, sama seperti rencana kamu besok pagi."

Ibu mulai menangis lagi, kali ini tanpa mencoba meredam suaranya. Suara isak tangis Ibu memenuhi ruangan yang sempit itu, berbaur dengan suara detak jam dinding yang masih terus berbunyi.

"Dua bulan pertama, kiriman uang itu memang datang."

"Kami sangat senang. Kami bisa beli beras, bisa beli alat tani baru. Tapi setelah itu, suratnya berhenti datang. Tidak ada kabar, tidak ada uang, tidak ada apa-apa selama berbulan-bulan."

Anak itu hanya mendengarkan, ia tidak berani memotong cerita Ayahnya. Ia melihat bagaimana tangan Ayah yang kasar kini mulai gemetar dengan sangat jelas di atas meja.

"Ayah menyusul ke kota dengan sisa uang yang ada. Ayah cari pabriknya, Ayah tanya ke teman-temannya. Dan kamu tahu apa yang Ayah temukan?" Ayah menatap anaknya dengan tatapan yang sangat kosong. "Ayah menemukan kakak Ayah di sebuah kontrakan sempit yang bahkan lebih kecil dari dapur kita. Dia sakit parah karena bekerja terlalu keras di pabrik kimia tanpa perlindungan apa-apa. Mereka membuangnya begitu saja karena dia sudah tidak bisa bekerja lagi."

    Ayah memejamkan matanya rapat-rapat, seolah ingin menghapus bayangan itu dari pikirannya. "Ayah membawanya pulang dengan mobil bak terbuka karena tidak punya uang untuk sewa ambulans. Dia meninggal di perjalanan, tepat di pangkuan Ayah sebelum kami sampai di desa ini. Dia pulang tanpa membawa apa-apa, hanya membawa badan yang tinggal tulang, dan kulit."

    Ruangan itu menjadi sangat hening setelah cerita. Anak itu merasa jantungnya berdetak sangat cepat. Ia tidak pernah menyangka ceritanya akan seperti itu di balik sikap keras Ayahnya selama ini. Ia melihat ke arah tangannya sendiri, lalu beralih menatap kaki Ibunya yang tidak memakai alas kaki di atas lantai semen yang dingin.

"Ayah tidak melarangmu karena Ayah ingin kita susah terus," ucap Ayah, suaranya kini terdengar sangat lembut. "Ayah hanya tidak sanggup kalau harus menjemputmu di terminal dalam keadaan yang sama seperti Pamanmu dulu. Ayah lebih baik melihatmu makan nasi garam di sini daripada melihatmu hancur di tangan orang-orang kota yang tidak punya hati."

    Anak itu menelan ludah. Rasa sesak di dadanya kini berganti menjadi rasa haru. Ia melihat Ayahnya yang perkasa kini terlihat sangat rapuh di depannya. Ayah tidak lagi terlihat seperti pria pemarah yang egois, melainkan seperti seorang pria yang sedang berusaha mati-matian melindungi sesuatu yang berharga.

"Tapi, Yah," anak itu akhirnya bersuara setelah lama terdiam.

"Keadaan sekarang sudah beda. Aku sudah janji pada temanku, dan pabrik yang aku tuju punya aturan yang jelas. Aku tidak akan seperti Paman Yusuf. Aku akan menjaga diriku baik-baik."

"Semua orang yang pergi ke kota selalu bilang begitu," potong Ayah dengan cepat. "Yusuf juga bilang begitu waktu itu. Dia bilang dia kuat, dia bilang dia bisa jaga diri. Tapi kota itu bisa mengubah siapa saja menjadi orang yang berbeda."

Ibu mendekati anaknya, lalu memegang kedua tangan anaknya dengan sangat lembut. Tangan Ibu yang kasar itu terasa hangat.

"Nak, dengarkan Ayahmu. Kami hanya punya kamu. Harta kami hanya kamu.”

    Anak itu menatap Ibu, lalu beralih menatap Ayah. Ia merasa terjepit di antara keinginannya untuk membantu keluarga dan ketakutan orang tuanya yang sangat beralasan. Ia melihat ke sekeliling rumah itu sekali lagi. Lampu bohlam yang berkedip hampir putus, dinding kayu yang lapuk, dan piring yang kosong. Semuanya seolah menuntutnya untuk membuat keputusan yang sangat sulit malam itu juga.

    Ia menarik napas panjang, mencoba menjernihkan pikirannya yang kacau. Di luar rumah, angin malam berhembus pelan, menggoyangkan dahan pohon di samping rumah yang bergesekan dengan atap seng, menimbulkan suara berisik yang mengganggu kesunyian. Mereka bertiga masih duduk di meja makan, terjebak dalam kebenaran yang baru saja terungkap. Tidak ada lagi teriakan, hanya ada sisa-sisa air mata dan beban masa lalu yang terasa sangat berat di tengah ruangan itu.

    Ibu meletakkan kain lap yang ia bawa di atas meja. Matanya sembap dan merah. Keheningan kali ini terasa berbeda dari sebelumnya. Tidak ada lagi ketegangan yang meledak-ledak, hanya ada sisa sesak yang tertinggal di udara. Ayah masih menatap asbak yang penuh abu rokok, tangannya diam di atas meja.

    Anak itu memperhatikan tangan Ayahnya. Ia membayangkan tangan yang sama puluhan tahun lalu harus memeluk tubuh kaku saudaranya di atas mobil bak terbuka. Bayangan itu membuat rasa bersalah mulai merayap di dadanya, menggantikan amarah yang tadi sempat meluap. Namun, saat ia melirik ke arah tas kain usangnya di sudut ruangan, tekadnya kembali mengeras. Ia menyadari bahwa mencintai orang tua bukan berarti harus ikut terkubur dalam ketakutan mereka, melainkan berani membawa perubahan demi mereka.

"Ayah tidak pernah bermaksud membuatmu merasa terkurung di sini," ucap Ayah pelan. "Ayah hanya tidak ingin pintu rumah ini diketuk oleh orang asing yang membawa kabar buruk tentangmu. Ayah tidak sanggup jika hal itu terulang lagi."

Anak itu menelan ludah. Ia tahu cerita tentang Paman Yusuf sangat mengerikan, tapi melihat piring kosong di depannya terasa jauh lebih nyata. Ia menatap Ayah yang masih duduk dengan bahu merosot.

"Aku tetap akan pergi besok pagi, Yah," ucapnya dengan penuh keyakinan. "Aku tidak bisa hanya diam menunggu rumah ini hancur perlahan."

Ayah terdiam cukup lama. Matanya yang merah menatap asbak, lalu beralih menatap anaknya sebentar. Tidak ada lagi amarah atau bentakan, yang tersisa hanyalah kepasrahan yang sangat dalam di wajah yang lelah itu.

"Terserah kamu," ucap Ayah.

Ayah bangkit dari kursi. Ayah berbalik dan berjalan perlahan menuju kamar tanpa menoleh lagi, meninggalkan aroma tembakau yang masih menggantung tipis. Punggung Ayah terlihat sangat bungkuk malam ini, seolah beban masa lalu kembali menindih pundaknya dengan berat.

Ibu mengusap punggung tangan anaknya sekali lagi, memberikan kehangatan yang singkat sebelum akhirnya ikut berdiri dan menyusul Ayah ke kamar. Keheningan kembali menyergap, menyisakan suara langkah kaki Ibu yang menjauh.

    Kini, tinggal anak itu sendirian di meja makan dalam kegelapan malam. Piring plastik kosong dan gelas kopi yang tinggal ampas menjadi saksi bisu perdebatan panjang mereka. Di luar, suara jangkrik masih mengerik, beradu dengan angin malam yang masuk melalui celah dinding kayu. Ia melihat tas kainnya di sudut ruangan, siap untuk dibawa pergi saat fajar tiba. Keputusannya sudah tidak bisa diubah lagi. Ia tahu perjalanannya akan berat, tapi ia lebih memilih mencoba daripada menyerah pada takdir di rumah ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi - Aku, Kenangan, dan Kenyataan