Cerpen - Sayap yang Tak Kasat Mata

Sayap yang Tak Kasat Mata

 Oleh: Mochammad Dzulfikar Ali


    Telah datang hari ini. Apakah akan seperti kemarin? Apakah akan menjadi lebih baik? Tentu saja tidak. Aku sudah muak dengan kehidupanku yang monoton ini. Selalu berangkat pagi, pulang petang. Udara pagi yang dingin menempel di kulitku seperti beban yang tak mau pergi. Tirai kamar bergetar pelan, seolah ikut menggodaku untuk tetap berbaring di ranjang. Aku memejamkan mata sejenak, berharap dunia di luar sana bisa lenyap meskipun hanya untuk sesaat. Namun kewajiban memaksaku untuk melangkah dan bangkit meninggalkan surga pulau kapuk ini menuju neraka yang disebut gedung kantor korporat itu, lagi, lagi, dan lagi. Setiap hari kerja rodi tanpa penghargaan dan apresiasi. Uang lembur tak dibayar, gaji terus dikorupsi oleh bos keparat itu.

    Terkadang aku menyempatkan diri untuk pergi ke warung untuk sekedar membeli kopi demi menghilangkan dahaga di hari yang panas. Namun,segelas kopi panas di tanganku ini hanya menghangatkan kulit, bukan hatiku. Bau gorengan dari dapur warung terbang ke udara, bercampur dengan rasa pahit di dada. Tanpa kusadari, dengan kencangnya aku menyuarakan batinku.

“Haaaahh. Mengapa sepanjang hari selalu begini. Mereka selalu melempar tanggung jawab, menyalahkanku, dan tidak pernah menghargai aku. Sebenarnya salahku apa. Kuharap mereka semua bisa binasa saja.”

Semua mata tertuju ke arahku dengan keheranan. Salah satu pengunjung bertanya kepada pemilik warung,

“Mak, orang itu kenapa?”

“Ah, orang itu. Ia sudah biasa datang setiap siang hari untuk minum dan bergumam tidak jelas seperti itu. Mungkin ada yang salah dengan otaknya.”

Kata-kata itu terasa seperti paku berkarat yang ditancapkan di telingaku. Mendengar itu aku tidak tinggal diam dan kuhampiri mereka.

“Mau kalian apa! Apa kalian pikir aku gila hanya karena berani bicara jujur tentang dunia ini! Seandainya kalian tahu betapa busuknya sistem dan betapa sia-sianya menjadi boneka kantor tiap hari.”

Orang-orang mulai menjauh. Aku sendirian lagi dengan rasa sedih dan kecewa. Kupulang ke rumah lewat gang kecil di samping warung. Dalam perjalanan, aku teringat bahwa hari esok akan seperti ini lagi.

“Ini semua salah si bos keparat itu.”

Hari semakin gelap. Mentari hampir tak tampak. Dalam dinginnya senja, aku berjalan di pinggiran gang sempit dengan raut wajah muram. Bayangan rumah-rumah tua di sisi jalan memanjang seperti tangan yang ingin menarikku kembali ke lubang gelap yang dalam.

“Aku lelah harus terus menghadapi si keparat itu selama hampir dua belas jam. Ia bahkan tidak terlihat kelelahan.”

“Tetapi berbeda denganku. Aku lelah dan terluka. Ya Tuhan, jika Kau mendengarku, kumohon kabulkan satu pintaku kali ini saja. Bisakah aku tidak perlu pergi ke sana. Bisakah aku tidak perlu bertemu orang-orang seperti itu. Bisakah hal itu terjadi agar aku bisa beristirahat sebentar saja. Aku hanya ingin pulang ke rumah dan tidur. Apakah permohonan kecilku ini terlalu sulit untuk dikabulkan.”

    Matahari mulai tenggelam. Angin berembus kencang, membawa hawa dingin yang merayap di antara rumah-rumah. Udara malam menusuk kulitku bagaikan ribuan jarum es. Kakiku terasa berat, seolah melangkah di atas lumpur yang menahan setiap gerak. Jalanku sempoyongan, pandanganku mulai kabur. Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya jatuh, membasahi pakaian.

    Aku berhenti di pinggir gang sempit dan duduk di atas batu yang dingin. Hening malam memelukku bersama rasa perih yang sulit kujelaskan. Pandanganku kosong menembus kegelapan. Dalam hati aku bertanya, mengapa hidup ini terasa begitu berat. Setiap langkah yang kutempuh seolah membawa beban yang tak pernah berkurang.

    Beberapa saat berlalu. Di tengah sunyi itu, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Seperti ada getaran halus yang mengalun dari ujung gang. Aku menyeka air mata dan mencoba melihat sekitar. Dan ternyata dari kegelapan muncul seekor kucing oranye. Namun ia tidak seperti kucing biasa. Tubuhnya mungil, matanya berkilau, dan dari punggungnya tumbuh sepasang sayap yang bersinar lembut, menyerupai bulu burung malaikat. Cahaya itu menyapu gang dengan sinar hangat yang menenangkan.

    Pandanganku terpaku kepadanya. Hawa dingin yang menusuk perlahan menghilang, digantikan oleh rasa hangat yang mengalir dari ujung kaki hingga ke kepala. Kucing itu berjalan perlahan mendekat, matanya seolah menatap jauh ke dalam hatiku. Seakan ia tahu segala luka yang kusimpan. Seakan ia memahami segala keluh yang tak pernah sempat kuucapkan. Tanpa sadar, air mataku kembali jatuh. Bukan karena dingin, bukan pula karena sedih. Melainkan karena untuk pertama kalinya aku merasa tidak sendiri. Di tengah gelap yang pekat, ada cahaya yang memilih untuk datang padaku.

“Aku mungkin sudah gila.”

Kucing itu berjalan mendekat. Tatapannya tajam namun tak mengintimidasi, seolah sudah mengenalku lebih dalam daripada siapa pun.

“Kau masih mengingatku, bukan” Suara itu muncul begitu saja di kepalaku. Lembut, hangat, seperti suara teman lama yang telah lama kukenal.

“Kau siapa?”

“Pertanyaanmu itu sudah tidak penting. Tapi kau bisa memanggilku Oren. Aku hanya makhluk penuh kebebasan, yang tertawa tanpa beban, yang berani bermimpi dan menantang dunia. Jika kau bertanya siapa aku, aku adalah makhluk yang kau tinggalkan di masa lalu.”

Aku terkejut. Dadaku bergetar hebat, dalam Ingatan samar tentang seekor kucing kecil di masa lampau mulai muncul, dibalut cahaya hangat.

Oren menatapku lembut dan ia mulai berbicara kembali padaku,

“Manusia memang rumit. Ada yang brengsek dengan memanfaatkan orang lain demi kepentingan pribadi. Ada yang baik hati namun terus disakiti. Tapi kau dulu penuh kebebasan. Kau tertawa tanpa beban, mencintai hidup. Apa kau tak ingin merasakannya lagi.”

“Menurutmu, apa gunanya semua ini?”

“Apa gunanya hidup jika hanya jadi mesin?”

Aku terdiam. Kehidupan kantor, kemacetan, atasan semena-mena, semua seperti kabut yang perlahan tersibak.

“Tapi aku tak bisa lepas begitu saja. Aku punya tagihan. Aku juga punya tanggung jawab.” Ucapku.

“Bebas bukan berarti lari. Bebas artinya memilih arahmu sendiri. Bahkan di tengah tanggung jawab, kau bisa memilih jadi manusia, bukan mesin.” Jawab si Oren

Aku mengusap kepala Oren. Ia mengeong kecil, lalu mengepakkan sayapnya dan terbang ke langit malam. Aku bergegas pulang. Selama perjalanan aku memikirkan siapa sebenarnya kucing oranye bersayap itu. Tanpa sadar aku tertidur.

    Keesokan harinya aku tidak kembali ke kantor. Aku duduk lebih lama di warung, mendengarkan angin sore dan suara anak-anak bermain. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang entah berapa lama, napasku terasa ringan. Tidak ada suara jarum jam yang mencekik. Hari-hari setelah itu tetap sama. Aku masih pergi ke kantor, masih terjebak macet, masih mendengar ocehan si keparat itu. Tapi ada yang berbeda. Aku mulai berani berkata tidak. Aku mulai bisa mengendalikan diri dan mengatur waktuku sendiri.

Orang-orang di kantor menatapku dengan keheranan. “Kamu seperti bukan kamu yang dulu. Biasanya kamu paling patuh, paling rajin.”

Aku hanya tersenyum dan berkata pada mereka. “Karena aku bukan lagi budak aturan. Aku manusia.”

Setiap sore aku mampir ke warung yang sama. Berharap Oren muncul lagi. Tapi kehadirannya sudah tidak terlalu penting lagi. Yang penting adalah perasaan yang ia bawa.

Di suatu sore si Oren kembali muncul dan lantasku bertanya,

“Kenapa kau datang hari ini?”

Ia mengeong pelan lalu mulai menatapku dan berkata.

“Karena kau hampir lupa lagi.”

Aku menarik napas panjang dan mulai menanggapi. Ia benar. Beberapa hari terakhir aku mulai kembali terjebak dalam rutinitas harian yang sama kembali. Tapi engkau mengingatkanku bahwa aku punya pilihan.

“Terima kasih.” Bisikku.

Oren berdiri, meregangkan tubuhnya, lalu mengepakkan sayap. Sore itu menjadi lebih hangat. Angin berembus lembut, dan entah kenapa aku merasa seluruh dunia memberiku pelukan.

“Kau adalah manusia terbaik yang pernah kukenal, jagalah dirimu, manu... ah, sepertinya kata-kata itu kurang tepat.”

“Apa maksudmu, Oren?” Tanyaku sambil keheranan.

Ia tersenyum dan mulai berkata,

“Bukankah lebih baik bertanya kepada dirimu sendiri, wahai diriku?”

Tak lama kemudian si Oren menghilang entah kemana bersamaan dengan datangnya malam.

    Dalam diam aku akhirnya mengerti. Siapa itu Oren, kenapa ia ada dan muncul di hadapanku. Ia adalah sosok yang dahulu sangat melekat pada diriku, sosok yang pernah bebas bermimpi, dan mencintai hidup sebelum dunia merubahku. Dan meski kehidupan tak pernah sempurna, aku tahu ada sayap yang tak kasat mata di punggung ini. Sayap itu Adalah simbol pilihan, keberanian, dan kenangan akan masa-masa indah yang tak pernah ternodai.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen - Malam Terakhir

Puisi - Aku, Kenangan, dan Kenyataan