Kumpulan Puisi Kemanusiaan

 Puisi 1 – Di Lampu Merah

Keringatnya tumpah di aspal yang mendidih.

di antara deru mesin dan asap yang menyesakkan,

Telapak tangan mungil mengetuk pelan,

pada setiap kaca yang tertutup rapat.

 

Sepasang kaki kecil mengejar bayangan,

di balik kaca yang enggan terbuka.

Di seberang jalan tawa sebaya terdengar,

terbawa angin berlalu begitu saja.

 

Puisi 2 – Di Kala Senja

Duduk diam di tepi senja,

menatap halaman luas yang tak berujung.

Hanya gesekan daun kering yang terdengar,

memecah sunyi di lorong yang panjang.

 

Ingatan melayang pada suatu masa,

di kala setiap sudut penuh dengan tawa.

Kini tinggal kenangan,

tersimpan rapat dalam hati.

 

Menanti sesuatu yang tak kunjung tiba,

di antara langkah-langkah asing yang berlalu.

Hanya ada bayangan di sudut beranda,

menunggu pelukan hangat yang pernah ada.

 

Puisi 3 – Di Tengah Gemerlap Kota

Lampu-lampu kota menyala terang,

memantul pada dinding kaca gedung tinggi.

Tawa riuh pecah di balik pintu restoran,

berlalu begitu saja.

 

Lantai trotoar semakin dingin,

di bawah kaki yang tak beralas.

Sepotong roti yang tersisa di tempat sampah,

menjadi rebutan angin dan debu jalanan.

 

Gemerlap kota kian menyilaukan mata,

menyisakan sudut gelap yang sunyi.

Cahaya megah menelan seluruh pandangan,

menelan sosok yang meringkuk di bumi.

 

Puisi 4 – Yang Tersisa

Segala yang tegak kini rata dengan tanah,

menyisakan garis batas yang tak lagi terbaca.

Hanya ada keheningan yang menyesakkan,

di antara retakan dinding yang masih tersisa.

 

Sepasang sandal terjepit di ambang pintu,

separuhnya tertimbun di bawah reruntuhan.

Sesuatu yang dulu berharga dan dijaga,

kini menjadi tumpukan yang tak lagi punya nama.

 

Suara angin bersiul di sela lubang atap,

membawa dingin yang menembus hingga ke tulang.

Menanti fajar di balik awan yang masih pekat,

di tengah duka yang belum juga meluap.

 

Puisi 5 - Pojok Kelas

Tawa pecah di koridor yang panjang,

menyisakan bisikan yang lebih tajam dari belati.

Buku-buku berserakan di lantai,

tumbang bersama tatapan yang tak berani menatap langit.

 

Dunia seolah runtuh di balik meja,

meninggalkan bekas yang tak kasat mata.

Sebab luka paling dalam seringkali abadi,

lahir dari lisan yang tak dijaga.

 

Puisi 6 – Dalam Deru

Deru mesin menelan seluruh suara,

menuntut raga terus bergerak tanpa jeda.

Sisa napas habis menahan lelah,

menukar tenaga dengan upah yang sekadarnya.

 

Baris demi baris barang siap dikirim,

namun meja di rumah tak kunjung berisi.

Mimpi-mimpi besar tertimbun debu,

menyisakan lelah yang tak kunjung padam.

 

Puisi 7 – Di Balik Pintu Orang

Buih sabun membasuh noda,

pada pakaian yang bukan miliknya.

Tangannya hangat memeluk anak orang,

saat buah hati menunggu sendirian.

 

Ia menepis rindu di sela cucian,

bertahan demi upah yang tak seberapa.

Demi sesuap nasi,

apapun akan ia korbankan.

 

Puisi 8 –Tanah Orang

Lumpur kering di sela jemari,

tertanam dalam di sawah yang luas.

Punggung membungkuk di bawah terik,

menanam padi milik orang.

 

Kaki terbenam di lumpur dalam,

mengejar upah dari tangan majikan.

Sebab lapar tak kenal hari,

raga bertahan meski kian payah.

 

Tangan kasar mengais sisa gabah,

bukan emas atau harta melimpah.

Asal ada nasi putih hangat di meja,

untuk anak yang menunggu di rumah.

 

Puisi 9 – Yang Terpinggirkan

Aroma busuk menusuk hidung,

menempel erat di balik baju.

Tangan lusuh,

melempar sisa tak terpakai.

 

Gerobak karatan berjalan pelan,

menyusuri gang di pagi buta.

Tak butuh pujian,

hanya penghasilan untuk menyambung hidup.

 

Puisi 10 – Harapan

Dunia berputar di atas tangis,

di sela gedung yang menjulang tinggi.

Langkah berat menyeret nasib,

menembus debu jalanan.

 

Punggung membungkuk tertikam terik,

tangan kasar tergores mesin tua.

Aroma busuk menempel di baju,

menjadi saksi bisu.

 

Hasil keringat mengalir ke tangan tuan,

hanya sisa yang jatuh ke genggaman.

Padi ditanam tapi perut menahan lapar,

kaki melangkah tapi langkah kian melambat.

 

Tiap duka terekam di depan mata,

meresap ke raga yang ikut lelah.

Menyadari pedih di balik senyum,

menunggu saat luka akan sembuh.

 

Sebab dunia bukan milik pemenang saja,

tapi juga milik tangan-tangan yang bertahan.

Semoga esok membawa nasi hangat di meja,

dan keadilan bukan sekadar kata tanpa makna.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen - Malam Terakhir

Puisi - Aku, Kenangan, dan Kenyataan